Menanti Kelahiran Raksasa Bisnis Seluler CDMA

Apa bedanya layanan CDMA (code division multiple access) Fren dari PT Mobile-8 dan Esia dari PT Bakrie Telecom? Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada pelanggan seluler, mereka akan menjawab bahwa nomor Fren bisa dibawa ke luar kota secara berpindah-pindah, sedangkan nomor Esia tidak bisa di bawa ke luar kota, kecuali diaktifkan terlebih dahulu.

Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada kedua operator itu, maka Mobile-8 akan menjawab Fren merupakan layanan seluler seperti GSM yang jangkauannya sudah meluas di seluruh wilayah Pulau Jawa. Adapun Esia akan mengklaim sebagai layanan telepon rumah yang mobile, karena pesawatnya menggunakan telepon seluler.

Jawaban atas pertanyaan itu semuanya benar. Sekalipun sama-sama mengadopsi teknologi CDMA dan beroperasi pada frekuensi 800 MHz, kedua operator CDMA itu memegang lisensi penyelenggaraan telekomunikasi yang berbeda.

Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No.52/200 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, penyelenggaraan jaringan telekomunikasi terdiri dari dua: penyelenggaraan jaringan tetap dan penyelenggaraan jaringan bergerak.

Mobile-8 menggelar layanan Fren dengan lisensi sebagai penyelenggara jaringan bergerak, sedangkan Bakri Telecom mengantongi lisensi penyelenggaraan jaringan telepon tetap untuk layanan Esia.

Lalu apa bedanya? Toh kedua layanan itu sama-sama menggunakan ponsel, artinya percakapan bisa dilakukan secara begerak.

Memang benar, secara teknologi keduanya pada dasarnya menggunakan pesawat ponsel. Namun, yang membedakan keduanya adalah fitur roaming yang hanya dimiliki pemegang lisensi penyelenggaraan jaringan bergerak. Fitur ini memungkinkan pelanggan untuk berpindah dari satu kota ke kota yang lain cukup dengan menggunakan satu nomor.

Itulah sebabnya nomor Fren-yang menjangkau lebih dari 100 kota atau kabupaten-dapat digunakan secara berpindah-pindah di kota atau kabupaten tersebut tanpa harus melakukan migrasi nomor.

Sebaliknya, Esia sebagai pemegang lisensi penyelenggara jaringan tetap tidak memiliki fasilitas roaming. Itulah sebabnya, nomor Esia-yang layanannya menjangkau sekitar 50 kota/kabupaten-hanya dapat digunakan secara lokal berdasarkan domisili pelanggan.

Memang, Esia saat ini menawarkan fitur layanan Esia GOGO untuk membantu pelanggan bepergian ke kota di dalam jangkauan Esia tanpa mengganti kartu. Namun, fasilitas itu harus diaktifkan sehari sebelum keberangkatan dan hanya bisa digunakan sesampai kota tujuan.

Jadi misalnya Anda dari Jakarta hendak ke Solo, maka nomor Esia Anda akan aktif setibanya di Solo. Kalau misalnya ketika melewati Semarang Anda mencoba menyalakan ponsel, maka ponsel Anda tidak dapat diaktifkan kendati kota Semarang masuk jangkauan layanan Esia.

Berbeda dengan kartu Fren, ketika melintasi kota-kota sepanjang rute perjalanan Jakarta-Solo, Anda tetap bisa berkomunikasi dengan menggunakan nomor Fren.

Dengan melihat perbedaan fitur dari dua penyelenggaraan jaringan yang berbeda tersebut, mana yang menurut Anda paling nyaman untuk digunakan? Tentu saja jawabannya adalah Fren, karena layanannya senyaman layanan seluler GSM (global system for mobile communications) PT Telkomsel, PT Indosat, dan PT Excelcomindo (XL).

Namun, pasar ternyata memberikan respons yang agak menyimpang, karena populasi pelanggan Esia mampu melampaui Fren. Esia mengklaim jumlah pelanggannya mencapai sekitar 4,9 juta nomor hingga akhir kuartal I/2008. Adapun pelanggan Fren hingga akhir 2007 mencapai lebih dari tiga juga.

Dilego ke Esia

Melihat keberhasilan layanan jaringan telepon tetap berbasis ponsel CDMA Esia tersebut, Mobile-8 rupanya tergiur untuk ikutan main di ceruk pasar tersebut dengan meluncurkan layanan CDMA Hepi.

Mobile-8 menargetkan menjaring 600.000 pelanggan dengan target mengelar layanan Hepi di 20 kota.

Belum sempat melihat gebrakan Mobile-8 di ceruk jaringan telepon tetap CDMA tersebut, Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo, pemilik Mobile-8 berniat menjual bisnis telepon CDMA tersebut. PT Global Mediacom Tbk-induk perusahaan Mobile-8-akan melepas 15,8% sahamnya melalui bursa, sehingga kepemilikannya di Mobile-8 tinggal 51%. (Bisnis, 26 Agustus 2008)

CEO Global Mediacom itu tengah melakukan penataan bisnis utuk lebih berkonsentrasi ke bisnis mutlimedia dengan menjual anak usaha di luar bisnis inti tersebut. Salah satunya adalah dengan menjual anak usahanya di bidang telekomunikasi.

Bakrie Telecom disebut-sebut akan membeli 15,8% saham tersebut, bahkan ada wacana kedua operator CDMA itu akan merger. Kalau ini terjadi, peta persaingan bisnis seluler-terutama segmen CDMA-di Tanah Air akan berubah.

Peleburan Fren dan Esia akan menjelma menjadi kekuatan besar, karena memegang lisensi yang lengkap: satu lisensi jaringan bergerak dan dua lisensi jaringan tetap. Raksasa bisnis seluler CDMA akan segera lahir.

Oleh Sutarno
Wartawan Bisnis Indonesia

Posted on Agustus 31, 2008, in Kutipan, Telekomunikasi. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. bantuin gua ngucapin met ultah ke anik ya..
    caranya kasih komment yg isinya ucapan met ultah ato apalah, di blog aq.
    ini url’nya :
    http://nasrul.blogdetik.com/2008/08/31/anik/
    terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: